Archive for April, 2006

Doa Malam……diinterupsi oleh Tuhan

Tuesday, April 25th, 2006

Bapa di surga …

Ya?

Jangan menyela. Aku sedang berdoa.

Tapi kamu memanggil-Ku.

Memanggil-Mu? Aku tidak memanggil-Mu. Aku sedang berdoa. Bapa di surga….

Nah, ya’kan, kamu melakukannya lagi.

Melakukan apa?

Memanggil-Ku. Kamu bilang, “Bapa di surga.” Aku di sini. Apa yang ada dalam benakmu?

Lho, aku tidak bermaksud apa-apa, kok. Aku ini’kan cuma sekedar mengucapkan doa malamku. Aku selalu berdoa sebelum tidur. Itu merupakan kewajibanku.

Oh, baiklah. Teruskan.

Aku mengucap syukur atas segala berkat-Mu…..

Sebentar. Berapa besar rasa syukurmu?

Apa?

Berapa besar rasa syukurmu atas segala berkat-Ku?

Aku…yah…aku tidak tahu. Aku tidak peduli. Bukankah itu memang bagian dari doa? Begitulah mereka mengajarku berdoa.

Oh, baiklah. Teruskan…

Teruskan?

Ya, teruskan doamu.

Oh, ya. Berkatilah mereka yang sakit, yang miskin dan yang menderita …

Apakah kamu bersungguh-sungguh?

Ya, tentu saja.

Apa yang telah kamu lakukan untuk itu?

Lakukan? Siapa, aku? Tidak ada, kurasa. Aku hanya berpikir bahwa semua akan menjadi baik jika Engkau yang berkuasa atas segala sesuatu di sini seperti Engkau berkuasa di atas sana, jadi manusia tidak perlu lagi menderita.

Apakah Aku berkuasa atasmu?

Hmmm, aku pergi ke gereja, aku memberi kolekte, aku tidak…

Bukan itu yang Aku minta. Bagaimana dengan tingkah lakumu? Teman-temanmu dan juga keluargamu menderita karena ulahmu. Juga caramu memboroskan uang…semuanya hanya untuk kepentingan dirimu sendiri saja. Dan bagaimana dengan buku-buku yang kamu baca?

Berhentilah mencelaku. Aku ini sama baiknya dengan orang-orang lain yang pergi ke gereja setiap hari Minggu.

Ah, maaf. Aku pikir engkau meminta-Ku untuk memberkati mereka yang berkekurangan. Agar hal itu terjadi, Aku perlu bantuan dari mereka yang memintanya……seperti kamu misalnya.

Tolong, Bapa. Aku perlu menyelesaikan doaku. Ini sudah jauh lebih lama dari biasanya. Berkatilah para misionarismu agar mereka dapat menolong orang-orang yang menderita.

Maksudmu orang-orang seperti Dion?

Dion?

Ya, anak yang tinggal di ujung jalan itu.

Dion … tapi dia itu suka merokok dan mabuk-mabukan, dan tidak pernah pergi ke gereja.

Pernahkah kamu melihat ke dalam hatinya?

Tentu saja tidak. Bagaimana mungkin…

Aku melihatnya. Hatinya adalah salah satu dari hati yang paling pedih dan menderita.

Baiklah, kiranya Engkau mengutus misionaris-Mu ke sana, ya Tuhan.

Bukankah kamu yang harus menjadi misionaris-Ku, utusan-Ku? Aku rasa Aku telah menyatakannya dengan amat jelas dalam setiap Misa.

Hei, sebentar. Apa-apaan ini. Apakah ini hari “Pengkritikan-ku"? Aku ini sedang melakukan kewajibanku, melaksanakan perintah-Mu untuk berdoa. Dan tiba-tiba saja Engkau menyerobot masuk dan mulai membeberkan semua kesalahanku.

Ah, kamu memanggil-Ku. Jadi, Aku di sini. Teruskan doamu. Aku tertarik dengan bagian selanjutnya. Kamu belum mengubah susunan doamu’kan? Ayo…

Aku tidak mau.

Kenapa tidak mau? A

ku tahu apa yang akan Engkau katakan.

Ayo, coba dan lihatlah.

Ampunilah segala dosaku … dan bantulah aku untuk mengampuni sesamaku.

Bagaimana dengan Billy?

Nah, betul’kan. Sudah kuduga. Aku tahu Engkau akan mengungkit-ungkit masalah itu. Dengar Tuhan, ia berbohong tentang aku sehingga aku dikucilkan. Semua temanku menyangka bahwa aku ini seorang pembohong besar, padahal aku tidak melakukan apa-apa. Lihat saja, akan kubalas dia!

Tetapi, doamu? Bagaimana dengan doamu?

Aku tidak bersungguh-sungguh.

Baiklah, setidak-tidaknya kamu berkata jujur. Aku pikir kamu memang senang membawa dendammu itu kemana-mana, ya’kan?

Tidak, aku tidak suka. Tetapi aku akan segera merasa puas begitu dendamku itu terbalaskan.

Kamu mau tahu suatu rahasia?

Rahasia apa?

Kamu tidak akan merasa puas, malahan akan semakin parah. Dengarkan Aku, kamu mengampuni Billy dan Aku akan mengampunimu.

Tapi Tuhan, aku tidak dapat mengampuni Billy.

Kalau begitu, Aku juga tidak dapat mengampunimu.

Sungguh, apa pun yang terjadi?

Sungguh, apa pun yang terjadi. Ah, kamu belum selesai dengan doamu. Teruskanlah.

Oh, ya …bantulah aku untuk menguasai diriku dan jauhkanlah aku dari pencobaan.

Bagus, bagus. Aku akan melakukannya. Tetapi kamu sendiri, jauhilah tempat-tempat di mana kamu dapat dengan mudah dicobai.

Apa maksud-Mu, Tuhan?

Berhentilah berkeliaran di rak-rak majalah dan menghabiskan waktumu di sana. Sebagian dari yang ditawarkan di sana, cepat atau lambat akan mempengaruhimu. Tiba-tiba saja kamu akan sudah terjerumus dalam hal-hal yang mengerikan … dan jika itu terjadi, jangan memperalat-Ku sebagai pintu keluar darurat.

Pintu keluar darurat? Aku tidak mengerti.

Tentu kamu mengerti. Kamu telah melakukannya berulang kali… kamu terjerumus dalam situasi gawat, kemudian kamu datang kepada-Ku. “Tuhan, bantulah aku untuk keluar dari masalah ini dan aku berjanji tidak akan melakukannya lagi.” Sungguh mengherankan, kekhusukan dan kesungguhan doamu meningkat drastis apabila kamu ditimpa masalah. Ingatkah kamu sebagian dari tawar-menawar yang kamu coba lakukan dengan-Ku?

Hmmm, aku tidak….Oh ya,….ketika guruku memergokiku menonton film tentang….Astaga!

Ingatkah kamu bagaimana kamu berdoa?

“Ya Tuhan. Jangan biarkan dia melaporkannya pada ibuku. Aku berjanji mulai sekarang tidak akan lagi menonton film tujuh belas tahun ke atas.” Dia tidak melaporkannya kepada ibumu, tetapi kamu tidak menepati janjimu, ya’kan?

Tuhan, aku melanggar janjiku. Aku sungguh menyesal.

Baik, lanjutkan doamu.

Sebentar, Bapa. Aku ingin bertanya sesuatu kepada-Mu. Apakah Engkau selalu mendengarkan doa-doaku?

Ya, setiap kata; setiap saat.

Kalau begitu, mengapa Engkau tidak pernah menjawabku sebelumnya?

Berapa banyakkah kesempatan yang kamu berikan pada-Ku? Tidak ada cukup waktu antara kata “Amin”-mu dan kepalamu menumbuk bantal. Bagaimana Aku dapat menjawabmu?

Engkau dapat, jika saja Engkau sungguh menghendakinya.

Tidak. Aku dapat hanya jika “kamu” sungguh menghendakinya. Anak-Ku, Aku selalu rindu untuk berbicara denganmu.

Bapa, maafkan aku. Maukah Engkau mengampuniku?

Sudah kuampuni. Dan terima kasih, sudah mengijinkan Aku menginterupsimu. Kadang-kadang Aku begitu rindu untuk dapat berbicara denganmu. Selamat malam. Aku mengasihimu.

Selamat malam, Bapa. Aku mengasihi-Mu juga.

The Doors Feat Snoop Dog - Riders on the Storm

Monday, April 24th, 2006

Riders on the storm
Riders on the storm
Into this house we’re born
Into this world we’re thrown
Like a dog without a bone
An actor out alone
Riders on the storm

There’s a killer on the road
His brain is squirmin’ like a toad
Take a long holiday
Let your children play
If ya give this man a ride
Sweet memory will die
Killer on the road, yeah

Girl ya gotta love your man
Girl ya gotta love your man
Take him by the hand
Make him understand
The world on you depends
Our life will never end
Gotta love your man, yeah

Wow!

Riders on the storm
Riders on the storm
Into this house we’re born
Into this world we’re thrown
Like a dog without a bone
An actor out alone
Riders on the storm

James Blunt - You’re Beautiful

Monday, April 24th, 2006

My life is brilliant

My life is brilliant.
My love is pure.
I saw an angel.
Of that I’m sure.
She smiled at me on the subway.
She was with another man.
But I won’t lose no sleep on that,
‘Cause I’ve got a plan.

You’re beautiful. You’re beautiful.
You’re beautiful, it’s true.
I saw your face in a crowded place,
And I don’t know what to do,
‘Cause I’ll never be with you.

Yeah, she caught my eye,
As we walked on by.
She could see from my face that I was,
Flying high, [ - video/radio edited version]
Fucking high, [ - CD version]
And I don’t think that I’ll see her again,
But we shared a moment that will last till the end.

You’re beautiful. You’re beautiful.
You’re beautiful, it’s true.
I saw your face in a crowded place,
And I don’t know what to do,
‘Cause I’ll never be with you.

You’re beautiful. You’re beautiful.
You’re beautiful, it’s true.
There must be an angel with a smile on her face,
When she thought up that I should be with you.
But it’s time to face the truth,
I will never be with you.

Glenn Friedly - Sekali ini saja

Monday, April 24th, 2006

bersamamu…

kulewati…

lebih dari seribu malam…

bersamamu…

yang kumau..

namun kenyataannya tak sejalan…

Tuhan, bila masih ku diberi kesempatan izinkan aku untuk mencintanya..

namun bila waktuku telah habis dengannya biar cinta hidup sekali ini saja..

bersamamu…

kulewati lebih dari seribu malam…

bersamamu…

yang kumau namun kenyataannya tak sejalan….

Tuhan, bila masih ku diberi kesempatan izinkan aku untuk mencintanya namun bila waktuku telah habis dengannya biar cinta hidup sekali ini saja

oh, tak sanggup bila harus jujur

hidup tanpa hembusan nafasnya

Tuhan, bila waktuku dapat berputar kembali sekali lagi untuk mencintanya…

namun bila waktuku telah habis dengannya biarkan cinta ini…

biarkan cinta ini…

hidup untuk sekali ini saja…

Terkenal

Monday, April 24th, 2006

Apa sech enaknya menjadi seseorang yang terkenal ????

apa kita harus cemburu apabila ada seseorang yang terkenal ????

biarpun orang yg terkenal itu org yg paling dekat dengan kita……aneh, hari ini hal itu terjadi pada diri gw….hal tersebut muncul secara tiba2. Yang pada akhirnya memunculkan suatu keputusan yang sangat berat……

biar gw kasih tau yah…..menjadi orang yang terkenal tuh hanya merupakan kesenangan sesaat…….semua itu semu……ga penting………ga ada artinya……disaat semua tingkah laku kita akan selalu memjadi sorotan dan pembicaraan org2…..blom lagi ditambah dengan org yang kenal dengan kita, tapi kita blom tentu knal dengan mereka…….dan pada akhirnya hanya akan mengambil keuntungan dari kita……..

maybe dalam diri kita akan berkata, "Huh!, dalam diri gwa khan ga ada yang bisa dimanfaatkan…..ga mungkin ada orang yang mau memanfaatkan kita…" SEMUA ITU SALAH !!!

sebab segala sesuatu yang ada di dalam diri kita, pasti bisa dimanfaatkan oleh diri kita atau oleh orang lain……

oleh karena itu, gw cuman bisa bilang "Lakukan yang terbaik menurut kamu…….bukan menurut ego kamu……"

~ SELAMAT TINGGAL ~

Tong Sampah

Sunday, April 23rd, 2006

Seorang pria tua yang bijak memutuskan untuk pensiun dan membeli rumah mungil dekat sebuah SMP (Sekolah Menengah Pertama).

Selama beberapa minggu ia menikmati masa-masa pensiunnya dengan tenang dan damai. Kebetulan saat itu sedang masa liburan sekolah. Tak berapa lama kemudian, masa sekolah tiba. Dan, sekolah itu pun penuh dengan anak-anak. Suasana tenang dan nyaman menjadi sedikit berubah.

Namun yang paling menjengkelkan pak Tua adalah, setiap hari ada tiga anak laki-laki lewat di depan rumah yang suka memukuli tong sampah yang ada di pinggir jalan. Mereka membikin keributan sepanjang hari dan berulah seolah-olah menjadi pemain perkusi hebat. Begitu terus dari hari ke hari.

Sampai akhirnya pak Tua merasa harus melakukan sesuatu pada mereka. Keesokan harinya, pak Tua keluar rumah sambil tersenyum lebar menghampiri tiga anak laki-laki yang sedang asyik memukuli tong sampah.

Ia menghentikan permainan mereka, berkata, "Hai, anak-anak! Kalian pasti suka bersenang-senang. Saya suka sekali dengan cara kalian bersenang-senang seperti ini. Sewaktu saya masih kecil, saya juga suka bermain-main seperti kalian. Nah, apakah kalian mau saya beri uang?" "Mau.. mau.." sahut ketiga anak itu serempak.

"Okay, begini," pak Tua itu tersenyum. Lalu ia mengeluarkan tiga lembar uang ribuan dari sakunya. Katanya, "Masing-masing dari kalian saya beri uang seribu. Tapi kalian harus berjanji mau bermain-main di sini dan memukuli tong sampah ini setiap hari." Anak-anak itu senangnya luar biasa. Sejak itu setiap hari mereka "bekerja" memukuli tong sampah itu dengan penuh semangat.

Beberapa hari kemudian, pak Tua itu menghampiri dan menyambut "pekerjaan" mereka dengan penuh senyum. Namun kali ini senyumnya tampak agak sedih. Katanya, "Nak, kalian tahu khan situasi krisis akhir-akhir ini membuat uang pensiun saya tak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari." Ia menarik nafas dalam-dalam. Anak-anak itu menunggu apa yang diucapkannya. Lanjut pak Tua. "Mulai hari ini saya hanya bisa membayar kalian lima ratus saja untuk tugas kalian memukuli tong sampah ini." Anak-anak itu tampak kecewa dengan keputusan pak Tua, namun mereka masih bisa menerimanya. Lalu mereka melanjutkan tugas mereka membuat keributan sepanjang hari.

Beberapa hari kemudian, pak Tua itu dengan wajah memelas mendekati anak-anak yang sedang memukuli tong sampah. Katanya, "Maaf, bulan ini saya belum menerima kiriman uang pensiun. Saya hanya bisa memberi kalian bertiga seribu Rupiah saja." "Apa..? Seribu untuk bertiga?," protes pemimpin pemain tong sampah itu. "Apa pak Tua kira kami ini mau menghabiskan waktu kami di sini hanya untuk uang segitu? Ah, yang benar saja! Pak Tua ini tidak masuk akal. Mulai hari ini kami tidak mau lagi melakukan tugas ini lagi. Kami keluar. " Ketiga anak lelaki itu pergi meninggalkan pak Tua itu dengan bersungut-sungut. Dan, sejak hari itu pak Tua menikmati ketenangan hingga akhir hayatnya.

* * * Begitulah bila kita mencampur-adukkan kegembiraan hati dengan "sejumlah uang". Seringkali kita kehilangan keceriaan hanya karena kita menganggap "keceriaan" itu adalah sebuah pekerjaan, maka bila uang yang didapat berkurang maka kesenangan pun jadi berkurang. Jangan sampai kegembiraan anda menghilang di balik berkurangnya beberapa lembar uang.* * *

Ketika Tuhan mencipakan para Ibu

Sunday, April 23rd, 2006

Ketika itu, Tuhan telah bekerja enam hari lamanya. Kini giliran diciptakan para ibu.

Seorang malaikat menghampiri Tuhan dan berkata lembut:
"Tuhan, banyak nian waktu yg Tuhan habiskan untuk
menciptakan ibu ini?"

Tuhan menjawab pelan:

"Tidakkah kau lihat perincian yang harus dikerjakan?
Ibu ini harus waterproof (tahan air / cuci) tapi bukan dari
plastik. Harus terdiri dari 180 bagian yang lentur, lemas dan tidak cepat capai. Ia harus bisa hidup dari sedikit teh kental dan makanan seadanya untuk mencukupi kebutuhan anak-anaknya. Memiliki kuping yang lebar untuk menampung keluhan anak-anaknya.

Memiliki ciuman yang dapat menyembuhkan dan menyejukan
hati anaknya. Lidah yang manis untuk merekatkan hati yang patah, dan
Enam pasang tangan!!


Malaikat itu menggeleng-gelengkan kepalanya "Enam pasang tangan Tuhan…. ? tsk … tsk ……tsk"

"Tentu saja! Bukan tangan yang merepotkan Saya, melainkan tangan yang melayani sana sini, mengatur segalanya menjadi lebih baik…." balas Tuhan.

Juga tiga pasang mata yang harus dimiliki seorang ibu.
"Bagaimana modelnya?" Malaikat semakin heran.

Tuhan mengangguk- angguk. "Sepasang mata yang
dapat menembus pintu yang tertutup rapat dan bertanya:
"Apa yang sedang kau lakukan di dalam situ?", padahal sepasang mata itu sudah mengetahui jawabannya. "Sepasang mata kedua
sebaiknya diletakkan di belakang kepalanya, sehingga ia bisa melihat ke belakang tanpa menoleh. Artinya, ia dapat melihat apa yang sebenarnya tak boleh ia lihat dan sepasang mata, ketiga untuk menatap lembut seorang anak yang mengakui kekeliruannya.
Mata itu harus bisa bicara! Mata itu harus berkata:
"Saya mengerti dan saya sayang padamu". Meskipun tidak diucapkan sepatah kata pun.

"Tuhan", kata malaikat itu lagi….., "Istirahatlah"
kata Tuhan."Saya tidak dapat, Saya sudah hampir selesai"
Ia harus bisa menyembuhkan diri sendiri kalau ia
sakit. Ia harus bisa memberi makan 6 orang dengan satu setengah ons daging.
Ia juga harus menyuruh anak umur 9 tahun mandi pada saat anak
itu tidak ingin mandi….

Akhirnya Malaikat membalik-balikkan contoh Ibu dengan
perlahan. "Terlalu lunak", katanya memberi komentar
"Tapi kuat", kata Tuhan bersemangat. "Tak akan kau bayangkan betapa banyaknya yang bisa ia tanggung,pikul dan derita.

"Apakah ia dapat berpikir?" tanya malaikat lagi.
"Ia bukan saja dapat berpikir, tapi ia juga dapat memberi gagasan,
ide dan berkompromi", kata Sang Pencipta.

Akhirnya Malaikat menyentuh sesuatu dipipi. "Eh,
ada kebocoran disini" "Itu bukan kebocoran", kata
Tuhan. "Itu adalah air mata…. air mata kesenangan, air mata kesedihan, air mata kekecewaan, air mata kesakitan, air mata kesepian, air mata kebanggaan, airmata…., airmata…."

Akhirnya Malaikat berkata pelan pada
pembaca………:

" JIKA KAMU MENCINTAI IBU MU KIRIMLAH CERITA INI
KEPADA ORANG LAIN, AGAR SELURUH ORANG DI DUNIA INI
DAPAT MENGHORMATI,
MENCINTAI DAN MENYAYANGI IBUNYA"

Pesan Terakhir

Sunday, April 23rd, 2006

Aku telah berusaha datang kepadamu, aku berseru memanggilmu dengan segenap hatiku, dan ketika aku datang kepadamu, kulihat engkau datang kepadaku.

Judah Haveli

Kamar rumah sakit, tenang dan remang-remang, bagiku terlihat tidak nyata. Waktu berlalu lamban, sepertinya aku sedang menonton tablo yang dimainkan didalam gedung teater yang gelap. Sayangnya, yang kulihat itu nyata, saudara-saudaraku dan aku sendiri, tenggelam dalam pikiran masing-masing, duduk membisu memandang ibu kami yang duduk disamping Ayah, menggenggam tangannya dan berbisik lembut kepadanya meskipun Ayah tidak sadar. Ayah kami, setelah bertahun-tahun dengan sabar menahan penderitaan karena penyakit yang tak bisa disembuhkan, sekarang sampai di akhir perjuangannya. Pagi-pagi tadi, Ayah kehilangan kesadaran. Koma. Kami tahu, saat ajalnya sudah dekat.

Ibu berhenti bicara kepada Ayah, kulihat dia memandangi cincin-cincin di jarinya sambil tersenyum lembut. Aku juga tersenyum, karena tahu Ibu pasti membayangkan ritual yang mereka mainkan selama empat puluh tahun menikah dengan Ayah. Ibu yang energik dan tak bisa diam, selalu keliru memasang cincin pertunangan dan cincin kawinnya. Ayah, yang tenang dan sabar, selalu meraih tangan Ibu dan dengan lembut serta hati-hati membetulkan letak kedua cincin itu. Meskipun sangat perasa dan penuh cinta, sulit bagi Ayah untuk mengungkapkan kata-kata ‘aku cinta padamu’, karenanya dia mengungkapkan cintanya lewat hal-hal kecil, seperti itu, selama bertahun-tahun.

Setelah diam beberapa lama, Ibu berpaling kepada kami dan berkata lirih dengan suara sedih, “Aku tahu ayah kalian akan segera maninggalkan kita,tetapi tiba-tiba dia tidak sadar hingga aku tak sempat mengucapkan pesan terakhir, bahwa aku mencintainya sampai kapan pun”

Aku menunduk, aku ingin berdoa, memohon mukjizat agar kedua orang tuaku bisa mengungkapkan cinta mereka untuk terakhir kalinya, tetapi hatiku sesak dan kata-kata tak mau terucap.

Sekarang kami hanya bisa menunggu. Malam semakin larut, satu per satu kami terlena, kamar semakin sunyi. Tiba-tiba, kami tersentak bangun. Ibu menangis. Takut bahwa yang terburuk telah terjadi, kami bangkit berdiri untuk menghiburnya. Tapi alangkah kagetnya kami melihat Ibu ternyata menangis bahagia. Kami ikuti arah pandangannya, dia masih menggenggam tangan Ayah dan entah bagaimana tadi, tangan Ayah yang satunya telah bergeser sedikit dan kini tertumpang di tangan Ibu.

Ibu tersenyum sambil menangis dan berkata, “ Sesaat tadi dia memandangku”, Ibu berhenti bicara, memandang tangannya lagi. “Lalu”, bisiknya dengan suara parau penuh perasaan,”Dia membetulkan letak kedua cincinku”

Ayah meninggal satu jam kemudian. Tetapi Tuhan dalam kebijaksanaan-Nya yang abadi, maha mengetahui apa keinginan kita sebelum kita sempat berdoa memohon kepadaNya. Doa kami dikabulkan dengan cara yang akan selalu kami syukuri dan kami kenang sepanjang hidup kami.

Ibu sudah menerima pesan terahir dari Ayah.

Karen Corkern Babb

Salty Coffee

Sunday, April 23rd, 2006

Laki-laki itu datang ke sebuah pesta. Meskipun penampilannya tidak jauh berbeda dengan penampilan laki-laki lain yang datang, namun kelihatannya tidak seorangpun yang tertarik padanya. Ia lalu memperhatikan seorang gadis yang dari tadi dikelilingi banyak orang. Di akhir pesta itu, ia memberanikan diri mengundang gadis itu untuk menemaninya minum kopi. Karena kelihatannya laki-laki itu menunjukkan sikap yang sopan, gadis itupun
memenuhi undangannya. Mereka berdua kini duduk di sebuah warung kopi. Begitu gugupnya laki-laki itu hingga ia tidak tahu bagaimaan harus memulai sebuah percakapan.

Tiba-tiba ia berkata kepada pelayan, "Dapatkah engkau memberiku sedikit garam untuk kopiku?" Setiap orang yang ada di sekitar mereka memandang lelaki itu keheranan.
Wajahnya memerah seketika, tetapi ia tetap memasukkan garam itu ke dalam kopinya lalu kemudian meminumnya. Penuh rasa ingin tahu, gadis yang duduk di depannya bertanya,
"Bagaimana kau bisa mempunyai hobi yang aneh ini?" Laki-laki itupun menjawab,
"Ketika aku masih kecil, aku hidup di dekat laut, aku suka bermain-main di laut. Jadi aku tahu rasanya air laut, asin seperti rasa kopi asin ini. Sekarang, setiap kali aku meminum kopi asin ini, aku terkenang akan masa kecilku, tentang kampung halamanku,
aku sangat merindukan kampung halamanku, aku merindukan orang tuaku yang tetap hidup di sana."

Ia mengatakan itu sambil berurai air mata, kelihatannya ia sangat tersentuh.

Gadis itu berpikir, "Apa yang diceritakan oleh laki-laki tersebut adalah ungkapan isi hatinya yang terdalam. Orang yang mau menceritakan tentang kerinduannya akan rumahnya adalah orang yang setia, peduli dengan rumah dan bertanggung jawab terhadap
seisi rumahnya". Maka gadis itupun mulai bercerita tentang kampung halamannya yang jauh, masa kecilnya dan keluarganya.

Merekapun berpacaran. Gadis iu menemukan semua yang dia inginkan di dalam diri laki-laki tersebut. Laki-laki itu begitu toleransi, baik hati, hangat dan penuh perhatian.
Ia adalah laki-laki yang sangat baik, sehingga ia selalu merindukannya. Singkat cerita,
merekapun menikah dan hidup bahagia. Setiap kali, ia selalu membuatkan kopi asin bagi
suaminya karena ia tahu suaminya sangat menyukai kopi asin.

Sesudah empat puluh tahun menikah, meninggallah suaminya. Ia meninggalkan surat kepada istrinya,

"Sayangku, maafkan aku, maafkan kebohonganku selama aku hidup. Inilah satu-satunya kebohonganku padamu, yaitu tentang "kopi asin". Ingatkah engkau pertama kali kita bertemu dan berpacaran? Saat itu aku begitu gugup untuk memulai percakapan kita.
Karena kegugupanku, aku akhirnya meminta garam padahal yang aku maksudkan adalah gula. Selama hidupku banyak kali aku mencoba untuk mengatakan kepadamu hal yang sebenarnya,
sebagaimana aku telah berjanji bahwa aku tidak akan pernah berbohong kepadamu untuk apapun juga. Tetapi aku tidak sanggup mengatakannya. Kini aku sudah mati, aku tidak takut lagi, maka aku memutuskan untuk mengatakan kebenaran ini kepadamu bahwa aku tidak suka kopi asin. Rasanya aneh dan tidak enak. Selama hidupku aku baru meminum kopi asin sejak aku mengenalmu. Meski begitu, aku tidak pernah menyesal untuk apapun yang aku
lakukan untukmu. Memiliki engkau merupakan kebahagiaan terbesar yang pernah aku miliki selama hidupku. Jika aku dapat hidup untuk kedua kalinya, aku tetap ingin mengenalmu dan memilikimu selamanya, meskipun aku harus meminum kopi asin lagi".

Air mata wanita itu membasahi surat yang dibacanya. Suatu hari seseorang bertanya
kepadanya, "Bagaimana rasanya kopi asin itu?" "Sangat enak", jawabnya.

Kita selalu berpikir bahwa kita sudah mengenal pasangan kita lebih dari orang lain mengenal mereka. Tetapi mungkin saja ada hal-hal tertentu yang tidak kita ketahui di mana pasangan kita telah rela meminum "kopi asin" (salty coffee) dengan membuang ego,
kesombongan, kesenangan dan hobinya untuk menjaga keharmonisan hubungan kita dengannya.

Ya, begitulah caranya mengasihi dan mencintai. Bukan menuntut, tetapi berkorban.
"Janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi
kepentingan orang lain juga". Membuang kebencian dan mengasihi lebih lagi, menyebabkan
rasa garam lebih enak daripada rasa gula.